Connect with us

Banyumas

Pariwisata Mewah Kembali Jadi Tren, Begini Kata Pengamat

Published

on

Pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Chusmeru.

Jatengraya.id, Purwokerto – Pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Chusmeru mengatakan konsep pariwisata mewah (luxury tourism) kembali menjadi tren sejak beberapa waktu belakangan.

“Konsep wisata mewah sudah ada sejak dulu, namun beberapa waktu belakangan ini kembali menjadi tren,” kata Chusmeru di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (25/9/2019).

Chusmeru menjelaskan kemunculan tren pariwisata mewah pada saat ini dilatarbelakangi oleh tingkat kompetisi yang tinggi di sektor pariwisata, perilaku wisatawan milenial, dan juga perkembangan teknologi.

Wisata jenis ini, kata dia, sering ditandai dengan wisatawan yang tinggal di hotel bintang lima atau resort, menikmati kapal pesiar, dan belanja barang mewah.

“Akan tetapi, seiring dengan perkembangan, pariwisata mewah bukan hanya ditentukan pada nilai ekonomis atau harga paket wisata. Dalam perspektif saat ini, pariwisata kemewahan lebih dimaknai pada kedalaman nilai berwisata melalui pengalaman yang didapat wisatawan,” katanya.

Dia menjelaskan kemewahan yang dimaksud dapat berupa pemanfaatan waktu, kemewahan pengalaman, hingga kemewahan berinteraksi sosial.

“Kemewahan bukan hanya diukur secara materi, namun juga secara sosial budaya. Misalnya, untuk mendapatkan kemewahan sosial budaya, wisatawan bukan hanya mengunjungi satu destinasi wisata saja, tetapi juga tinggal selama beberapa hari dan merasakan pengalaman kehidupan warga setempat di destinasi tersebut,” kata Chusmeru.

Dia menambahkan bagi generasi milenial, kemewahan juga dapat diperoleh dengan mengunjungi destinasi wisata yang natural serta mendapatkan berbagai pengalaman yang unik dan menarik.

“Kemewahan bagi kaum milenial juga dapat berupa pelayanan yang berkonsep berkelanjutan serta transaksi wisata dengan memanfaatkan teknologi internet, baik untuk pembayaran paket wisata, hotel, pesawat maupun berbagi foto dan video,” katanya.

Untuk itu, kata dia, para pihak terkait di bidang pariwisata perlu melakukan berbagai persiapan guna menghadapi tren pariwisata mewah. (wyp)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Banyumas

Pemda Diminta Tingkatkan Sosialisasi di Lokasi Rawan Longsor

Published

on

Lokasi longsor di Parakancanggah, Banjarnegara.

Jatengraya.id, Purwokerto – Pemerintah daerah perlu meningkatkan sosialisasi mengenai pentingnya mitigasi bencana kepada masyarakat yang tinggal di lokasi rawan longsor, kata akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman, Dr. Indra Permanajati.

“Tingkatkan sosialisasi mengenai kondisi wilayah termasuk upaya-upaya terkait mitigasi bencana,” katanya di Purwokerto, Senin (4/11/2019).

Indra yang merupakan Kordinator bidang bencana geologi, Pusat Mitigasi Unsoed menyampaikan itu terkait dengan kejadian tanah longsor di Kampung Taman Sari, Parakancanggah, Banjarnegara.

Menurut data yang dihimpun dari BPBD Banjarnegara longsor terjadi akibat jebolnya penahan jaringan irigasi yang terletak di atas lereng, akibatnya dua rumah warga yang lokasinya lebih rendah tertimbun tanah longsor.

Terkait kejadian tersebut, kata dia, sosialisasi yang perlu dilakukan salah satunya adalah mengenai risiko perumahan yang terlalu dekat dengan lereng saluran.

“Perlu memberikan jarak aman untuk perumahan di dekat saluran. Meskipun langkah tersebut cukup sulit mengingat pada saat ini sudah terlanjur banyak pemukiman warga yang berlokasi di dekat lereng,” katanya.

Langkah kedua, kata dia, adalah mengecek kondisi saluran agar tidak terulang kejadian serupa.

“Dan langkah ketiga adalah mengamankan lereng dekat saluran, dengan bangunan struktur perkuatan lereng dan saluran horisontal lereng,” katanya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara menginformasikan bahwa dua unit rumah di Kampung Taman Sari, Parakancanggah, tertimbun tanah longsor akibat jebolnya penahan jaringan irigasi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banjarnegara, Arief Rahman mengatakan akibat kejadian tersebut satu orang meninggal dunia dan dua orang lainnya luka-luka.

Dia menjelaskan berdasarkan keterangan masyarakat setempat, pada Jumat (1/11) malam sekitar pukul 23.00 WIB sejumlah warga melihat adanya retakan tanah.

“Retakan tanah tersebut berlokasi di sebelah Timur rumah, rumah yang dimaksud merupakan rumah yang saat ini tertimbun longsor. Selain itu warga juga melihat air dari irigasi merembes dan masuk ke jalan rumah warga,” katanya.

Ia menambahkan, pada Minggu pagi, warga membersihkan dan menutup retakan tanah tersebut. “Setelah berselang satu jam dari kegiatan pembersihan, beberapa warga mulai pulang ke rumah namun tidak lama kemudian terjadilah longsor dan warga langsung bergerak melakukan evakuasi, dua orang selamat dan satu meninggal dunia,” katanya. (wur)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Banyumas

Banyumas Hujan Deras, Talut Longsor Timpa Rumah

Published

on

Anggota TNI dan FPRB Sokawera bekerja bakti menyingkirkan material longsoran yang menimpa rumah Wahirin, warga warga Grumbul Wanalaba RT 02 RW 08, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (16/10/2019).

Jatengraya.id, Banyumas – Sebuah rumah di Grumbul Wanalaba RT 02 RW 08, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tertimpa talut pengaman jalan yang longsor akibat hujan deras.

“Talut pengaman jalan tersebut longsor Rabu dini hari tadi, sekitar pukul 03.00 WIB, setelah hujan deras mengguyur Desa Sokawera pada Selasa (15/10) siang dan semalam juga gerimis,” kata Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Sokawera Sulistya, di Banyumas, Rabu (16/10/2019).

Ia mengatakan, secara kebetulan talut pengaman jalan tersebut berdekatan dengan saluran air yang sebelumnya mengering akibat musim kemarau dan diduga terdapat retakan-retakan sehingga memicu terjadinya longsor.

Menurut dia, material longsoran dari talut tersebut menimpa bagian dapur rumah milik Wahirin tersebut yang berada di bawahnya.

“Akibat kejadian tersebut, sejumlah perkakas dapur milik Pak Wahirin yang berprofesi sebagai penderes nira kelapa dan perajin gula kelapa menjadi rusak, termasuk beberapa perangkat elektronik yang ada di rumah itu. Alhamdulillah tidak ada korban dalam kejadian tersebut,” katanya.

Lebih lanjut, Sulistya mengatakan berdasarkan hasil pendataan, kerugian yang diderita Wahirin akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai Rp10 juta, sedangkan kerugian pada talut yang longsor sekitar Rp15 juta.

Menurut dia, kejadian tersebut telah dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

“Kami bersama warga dan dibantu anggota TNI telah bekerja bakti menyingkirkan material longsoran yang menimpa rumah Pak Wahirin,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas Ariono Poerwanto mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap bencana longsor, tanah bergerak, dan banjir saat musim hujan.

Dari 27 kecamatan se-Kabupaten Banyumas, kata dia, sebanyak 11 kecamatan yang rawan longsor maupun tanah bergerak terutama di daerah pegunungan seperti Cilongok, Gumelar, Kedungbanteng, dan Somagede.

“Kalau rawan banjir di antaranya Kecamatan Tambak, Sumpiuh, Banyumas, Purwokerto Selatan, dan sejumlah wilayah di tepian Sungai Serayu,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat memantau kondisi tebing yang rawan longsor dan membersihkan saluran air yang tersumbat sampah agar alirannya lancar saat musim hujan. (sum)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Banyumas

Status Waspada, Aktivitas Gunung Slamet Masih Fluktuatif

Published

on

Gunung Slamet adalah sebuah gunung berapi kerucut yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia.

Jatengraya.id, Purwokerto – Aktivitas Gunung Slamet yang berada di antara Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal hingga saat ini masih fluktuatif, kata petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sukedi.

“Status masih Waspada (Level II), semuanya masih fluktuatif sehingga kami ikuti terus perkembangan itu,” katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (16/10/2019).

Ia mengatakan pihaknya setiap pekan selalu melakukan evaluasi terhadap perkembangan aktivitas Gunung Slamet.

Akan tetapi hasilnya, kata dia, masih fluktuatif karena belum ada parameter lain yang mendukung untuk diturunkan kembali ke Normal (Level I) maupun dinaikkan ke Siaga (Level III).

“Jadi memang masih tetap di status Waspada,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sukedi mengatakan berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh petugas Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, tremor menerus yang terjadi di Gunung Slamet masih terekam.

Dalam satu pekan terakhir, kata dia, amplitudo tremor menerus tertinggi yang terekam sempat mencapai kisaran 0,5-5 milimeter dan dominan pada 3 milimeter.

Sementara dalam pengamatan yang dilakukan pada hari Rabu (16/10), pukul 00.00-06.00 WIB, amplitudo tremor menerus yang terekam berkisar 0,5-3 milimeter dan dominan 1 milimeter.

“Saat Gunung Slamet mengalami peningkatan aktivitas pada tahun 2008-2009 dan 2014, terutama saat akan terjadi letusan, tremor menerus tertinggi mencapai di atas 10 milimeter. Tetapi saat itu ada parameter lain yang mendukung, kalau sekarang belum ada,” katanya.

Selain itu, kata dia, gempa embusan masih terekam dan asap putih tipis dengan ketinggian 50-100 meter yang keluar dari kawah puncak Gunung Slamet juga masih teramati oleh petugas Pos PGA Slamet.

Ia mengakui jika embusan asap putih yang keluar dari kawah puncak Gunung Slamet pada Senin (14/10) pagi sempat terlihat cukup tebal, namun sekarang kembali menipis.

“Deformasi juga masih terjadi di Gunung Slamet, sehingga statusnya masih tetap waspada,” ucapnya.

Terkait dengan hal itu, dia mengatakan hingga saat ini PVMBG masih merekomendasikan kepada masyarakat maupun pengunjung untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet.

PVMBG pada tanggal 9 Agustus 2019, pukul 09.00 WIB, menaikkan status Gunung Slamet dari aktif normal (Level I, red.) menjadi waspada (Level II, red.) karena ada peningkatan aktivitas kegempaan dan parameter lainnya. (Sum)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending